Newsletter
Newsletter

Salik dan Suluk di Solok

Scroll down
Akhmad Khudri, M.Kom
Akhmad Khudri, M.Kom
I`m
  • Residence:
    Palembang
  • Level of Study:
    Doctoral
  • Research Interest:
    Blockchain

Kisah Husen bin Mahmud, Sang Syekh Sihalahan

 

Di balik perbukitan Solok yang berselimut kabut pagi, terpatri nama yang mungkin tak sepopuler tokoh-tokoh nasional dari Ranah Minang lainnya, tapi dalam sunyi ia menyalakan suluh: Syekh Sihalahan, atau yang dalam catatan leluhur dikenal sebagai Husen bin Mahmud—seorang salik yang menempuh jalan ruhani dari Tabu, Kota Solok, menuju kedalaman tarekat Naqsyabandiyah.

 

 

Lahir sekitar tahun 1852, Syekh Husen bukan hanya mewarisi darah Minang, tapi juga dzauq, rasa halus yang menjadikannya murid Syekh Burhanuddin Ulakan—ulama besar yang mengakar kuat dalam sejarah Islam dan sufisme di Minangkabau. Dari Ulakan, sang salik muda menyerap syariat. Dari Palangki, ia mematangkan tarekat. Dan dari Solok, ia menanam benih cinta Tuhan dalam diam.

 

 

Nama “Sihalahan” bukan warisan lahir, tapi gelar yang tumbuh dari perjuangan dakwah. Sebuah nama yang disematkan bukan oleh adat, tapi oleh umat yang merasakan cahaya dari langkah-langkahnya.

 

 

Di sebuah surau yang ia bangun sendiri—Surau Latiah—ilmu dan latihan bertemu dalam satu ruang. Latihan dzikir. Latihan diri. Bahkan seni bela diri pun diajarkan di sini. Surau ini bukan tempat ramai, tapi tempat “dalam”. Di situlah para murid dari Tanah Datar, Sijunjung, hingga Padang Panjang datang menekuni suluk. Terutama di bulan suci Ramadhan, saat malam-malam panjang diisi dengan zikir dan diam yang menggema hingga ke langit.

 

 

Tak hanya satu guru yang membentuknya. Setelah berguru ke Syekh Burhanuddin, ia masih mencari. Dan pencari sejati memang tak mudah puas. Ia menuntut ilmu pula kepada Syekh Aminullah, cucu dari Syekh Supayang. Karena bagi Syekh Husen, suluk bukan sekadar amalan, tapi jalan pulang—yang harus ditempuh dengan bekal adab dan ilmu yang cukup.

 

 

Kini, tubuhnya telah kembali ke tanah. Wafat pada Juli 1917, jasadnya terbaring di kompleks Surau Latiah, yang kini masuk sebagai cagar budaya. Makamnya berbentuk undakan, miring seperti menunduk—seolah mengajarkan bahwa bahkan setelah wafat, tawadhu’ tetaplah pakaian terbaik para wali.

 

 

Surau Latiah sendiri masih berdiri, dengan atap gonjong khas Minangkabau. Dulu beratap ijuk dan berdinding sasak, kini beberapa bagiannya telah diperkuat. Tapi ruhnya tetap utuh. Di situlah zaman dan zaman saling bersalaman, menghidupkan kembali jejak suluk yang tak pernah mati.

 

Dan hingga hari ini, ziarah ke Surau Latiah bukan hanya perjalanan jasad. Ia adalah perjalanan batin, terutama bagi mereka yang merasa asing di zaman ini—zaman yang cepat, riuh, dan sering kehilangan makna.

 

 

Karena Solok ingin ingatan sejarah ini terus dikenang. Bahwa bahkan di balik suluk yang tidak selalu bercahaya terang benderang, bisa tumbuh seorang salik yang berhasil menghidupkan hati banyak orang.

© 2025 All Rights Reserved.
www.elpeef.com
Write me a message
Write me a message

    * informasi kamu akan disematkan dalam opini yang dikirim