Rumi yang Sering Disalahpahami
Dalam pandangan Jalaluddin Rumi, jalan menuju Tuhan bukan jalan liar tanpa arah. Ia adalah perjalanan yang bertahap: syariat adalah lilinnya, tarekat adalah jalannya, dan hakikat adalah tujuannya.
Tanpa syariat—aturan yang Allah gariskan dalam Islam—seseorang bahkan belum memulai perjalanan. Ia masih berada dalam kegelapan, belum menyalakan lilin.
Tanpa tarekat—jalan pembinaan diri, mujahadah, dzikir, adab—seseorang mungkin tahu aturan, tapi belum melangkah.
Dan tanpa hakikat, semua menjadi kering: tubuh sujud, tapi hati masih berdiri sombong.
Itulah mengapa para sufi seperti Rumi menyatukan semuanya dalam harmoni: aturan, perjalanan, dan cahaya batin. Tidak ada cinta tanpa kedisiplinan. Tidak ada zikir yang sahih tanpa syariat yang membimbing.
Sayangnya, banyak kutipan Rumi hari ini tersebar tanpa konteks, atau bahkan diterjemahkan secara liar oleh kalangan yang tidak memahami fondasi spiritual beliau. Padahal jika dibaca secara utuh, karya-karya seperti Mathnawi dan Fihi Ma Fihi justru sarat dengan nilai-nilai Islam yang mendalam dan syariat yang kokoh.
Kalimat Rumi yang sering dijadikan quote Instagram seperti:
“I looked for God in temples, churches, and mosques, but finally I found Him in my heart.”
…sering disalahartikan seolah-olah beliau mengajarkan relativisme agama. Padahal, konteksnya adalah pengalaman pencarian batin, bukan pengingkaran syariat. Justru beliau menulis:
“Shariah is like a candle, it shows the path. Tariqah is the journey, and Haqiqa is the destination. Without the candle, you cannot even begin.”
Kalimat ini tidak mungkin keluar dari mulut orang yang Islamnya setengah-setengah. Ini kalimat dari seorang pencinta Tuhan yang memahami bahwa cinta tanpa aturan akan tersesat, dan aturan tanpa cinta akan mati.
Rumi bukan sekadar penyair cinta. Ia adalah pewaris warisan Rasulullah ﷺ melalui jalur ruhani, yang menulis dengan darah cinta dan air mata mujahadah.
Jika hari ini kita mencari kembali cahaya dalam hidup kita, mungkin kita harus menyalakan kembali lilin itu, agar kelak kita dapat:
ikhlas dalam menjalankan syariat, penuh adab dalam belajar tarekat, dan damai tercipta saat peroleh hakikat.