Tidak Semua Dzikir Bersuara
Dan tidak semua yang bersuara, sedang berzikir.
Ada orang-orang yang lisannya mungkin tak hafal banyak doa,
tapi setiap harinya adalah rangkaian dzikir yang tidak terdengar.
Mereka yang menahan lelah tanpa keluhan.
Yang menunduk dalam diam, bukan karena tak mampu bicara,
tapi karena hanya Allah yang mereka ingin ajak bicara.
Kita terlalu sering mengukur ibadah dari apa yang tampak.
Berapa juz yang dibaca, berapa panjang doa yang dilantunkan, berapa kali menyebut asma Allah.
Tapi kita lupa, bahwa dzikir yang paling dalam kadang tak keluar dari mulut. Ia menetes dari peluh. Atau dari air mata yang ditahan diam-diam.
Ada seorang ibu yang tetap menyuapi anaknya meski tubuhnya lelah luar biasa—dan tidak mengeluh.
Itu dzikir.
Ada seorang bapak yang menolak korupsi kecil demi menjaga kehormatan rezeki.
Itu dzikir.
Ada orang yang menahan amarah karena tahu Allah melihat.
Ada orang yang menyimpan sabar karena yakin Allah tahu.
Dan ada yang hanya bisa duduk diam, karena bahkan menyebut nama Allah pun terasa berat—tapi hatinya masih menggantung harap.
Mereka semua sedang berzikir.
Kadang, saat hidup sedang rumit,
kita bahkan tidak tahu harus minta apa dalam doa.
Ingin menangis pun rasanya kering.
Ingin mengeluh pun sudah habis kata.
Dan kita cuma duduk…
menunduk…
diam.
Tapi justru saat itulah, Allah paling dekat.
Karena dzikir bukan hanya soal jumlah tasbih,
tapi tentang siapa yang kita pikirkan saat semuanya terasa berat.
Jika hari ini kamu masih bisa menahan amarah,
masih memilih untuk tidak membalas,
masih berusaha untuk sabar meski semua terasa lelah…
maka yakinlah:
Kamu sedang berdzikir.
Meski tak ada satu kata pun yang keluar dari lisanmu.
Dan Allah Maha Mendengar meski tersimpan jauh dalam hatimu.