Buat Anak Jatuh Cinta
Sore itu aku baru pulang. Badan masih lengket, pikiran belum sepenuhnya keluar dari mode “kerja”.
Tapi begitu buka pintu, ada sesuatu di atas meja makan:
selembar kertas kecil, dipotong berbentuk hati.
Di dalamnya tertulis beberapa huruf besar-kecil yang belum rapi.
Di bawahnya ada tanda tangan: “Yaya”.
Istriku bilang: “Dia nulis surat buat Abi. Katanya kangen.”
Aku terdiam.
Surat itu sederhana.
Tapi rasanya seperti tamparan paling halus yang pernah kuterima.
Karena mungkin, itu surat cinta pertama yang pernah aku terima dari anakku—dan yang tidak aku sadari sedang ditulis… oleh seseorang yang masih belajar menulis namanya sendiri.
Yaya baru TK A.
Tapi surat itu terasa lebih jujur dari email kerjaan mana pun.
Lebih menyentuh dari pesan WhatsApp mana pun.
Di tengah hidup yang dipenuhi notifikasi, deadline, dan pertemuan yang tak kunjung usai, aku lupa satu hal:
Bahwa anak-anak tidak butuh ayah yang sempurna.
Mereka cuma ingin ayah yang hadir.
Yang membaca surat kecil mereka dengan sepenuh hati,
dan membalasnya… bukan dengan kata-kata, tapi dengan waktu.
Aku masih menyimpan surat itu.
Sekarang dilaminating, kuselipkan di buku catatan kerja.
Biar kalau aku mulai lupa arah, aku buka lagi.
Karena ternyata, surat cinta paling dalam,
tidak ditulis oleh kekasih.
Tapi oleh anak kecil…
yang sedang belajar mengeja “Abi”.
Aku sibuk mencari cara menjadi ayah yang hebat,
padahal anakku cuma ingin aku pulang tidak terlambat.