Newsletter
Newsletter

Apa lah Arti Sebuah Nama

Scroll down
Akhmad Khudri, M.Kom
Akhmad Khudri, M.Kom
I`m
  • Residence:
    Palembang
  • Level of Study:
    Doctoral
  • Research Interest:
    Blockchain

Pergeseran Nama dan Pemutusan Makna


Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah medan pertempuran makna. Dalam banyak kasus, pergeseran nama menjadi cara paling halus namun paling menghunjam untuk mengaburkan identitas, memisahkan kita dari akar, dan mengganti ruh dengan simbol baru yang telah kehilangan getarnya.


Lihatlah bagaimana Ibrahim berubah jadi Abraham, Ishaq jadi Isaac, Ya’qub jadi Jacob, Yusuf jadi Joseph. Seolah terdengar wajar dalam dunia penerjemahan kitab suci, tapi hakikatnya ini lebih dari sekadar perbedaan fonetik. Ini adalah proses pemutusan dari sumber bahasa wahyu—bahasa Arab yang menyimpan nuansa, doa, bahkan akar makna kata yang dalam.


Begitu pula ketika Ibnu Sina, sang filsuf dan tabib besar Islam, dipanggil Avicenna oleh Barat, atau Al-Khawarizmi, bapak aljabar dan algoritma, direduksi menjadi Algorithm—seolah ia bukan tokoh sejarah, tapi sekadar istilah teknis. Ada juga Alfarabi yang disangka sebagai Plato dari Timur karena namanya berubah menjadi Alfarabius. Ibn Rushd dibingkai sebagai rasionalis ala Yunani, bukan ulama Islam setelah disebut sebagai Averroes. Atau Imam Al Ghazali dijadikan mistikus, bukan mujaddid dan pembaru karena dipanggil Algazel. Bahkan buku Rumi berjudul Mathnawi diubah menjadi Masnavi sehingga hilang akar bahasa Arab dan makna puisi dua barisnya.


Tak berhenti di sana. Di Timur pun hal ini terjadi. Pangeran Diponegoro yang merupakan anak dari Sultan Hamengku Buwono III dijuluki sebagai “rebel“, bukan mujahid. Thomas Matulessy, pejuang Maluku yang menggetarkan Belanda dengan semangat jihadnya, diubah jadi Kapitan Pattimura, nama kolonial yang lebih mudah dijinakkan. Bahkan Jayakarta, yang berarti “kemenangan sejati”—sebuah gema dari ayat inna fatahna laka fathan mubina (QS Al-Fath:1)—diubah menjadi Batavia, lalu Jakarta, yang asal maknanya makin kabur dalam ingatan kolektif kita.


Semua ini bukan sekadar soal pelafalan. Ini adalah proses peluruhan makna, pembentukan ulang sejarah dengan kacamata pihak yang berkuasa. Dengan mengganti nama, mereka mengganti narasi. Dengan mengganti narasi, mereka menguasai ingatan.


Maka memahami kembali nama-nama itu, menyebutnya dengan sebutan aslinya, adalah bagian dari jihad kebudayaan. Sebab dalam nama, tersimpan doa.


Dalam nama, tertanam makna. Dan dalam makna, bersemayam identitas.

© 2025 All Rights Reserved.
www.elpeef.com
Write me a message
Write me a message

    * informasi kamu akan disematkan dalam opini yang dikirim